Deskripsi
Terkadang rumah bukanlah dinding dan atap, melainkan sepasang tangan yang akhirnya bisa membuatmu tidak perlu lagi menegakkan punggung. Di sana, tidak ada yang bertanya di mana kamu berada dan mengapa begitu lama, mereka hanya menuangkan teh dan dengan diam-diam menyentuh bahumu. Segalanya menjadi lebih tenang, bahkan suara-suara dalam dirimu yang biasanya berdebat tanpa henti.
Ini adalah lagu tentang momen ketika pencarian berakhir. Ketika tidak perlu lagi menjadi kuat, membuktikan diri, atau melarikan diri. Ketika menjadi jelas: semua masa lalu hanyalah jalan menuju nafas ini di samping. Rumah yang hangat, nyata, terakhir, dan satu-satunya, di mana hati akhirnya menghembuskan napas - “menemukan”.
Sutradara: Tswaitson
Operator: Ahsan Okta
Editor offline: Pandam
Editor online: Tswaitson
Penulis skenario: Patrick Effendi, Shendi Maulana, Fiki Aulia, Tswaitson, Ahmad Maulana Fajri
Penampil: UN1TY
Produser musik: Patrick Effendi, Irvan Simanjuntak
Aransemen: Irvan Simanjuntak
Operator vokal: Rio Ndul
Pimpinan vokal: Patrick Effendi, Irvan Simanjuntak, UN1TY
Vokal direkam di Cabbyland
String: Ava Victoria
Pencampuran dan mastering: Eko Sulistyo
Lirik dan terjemahan
Asli
Ternyata jalan yang tak singgah sungguh melelahkan walau senang kita tak sadari.
Ternyata terlalu banyak mencinta buat hati tak tenang hingga berlabuhku di cintamu.
Tak ada rasa lain yang kuinginkan.
Tuhan abadikan bahagia ini.
Yang kubutuhkan tempat tuk pulang yang kutemukan di pelukanmu.
Rumah terakhir satu hati.
Yang kau bisikkan arah tuk pulang sinar yang terang ke pelukanmu.
Rumah terakhir satu hati.
Kamu penantian awal terbaik.
Ternyata jalan yang tak singgah sungguh melelahkan walau senang kita tak sadari.
Ternyata terlalu banyak mencinta buat hati tak tenang hingga berlabuhku di cintamu.
Tak ada rasa lain yang kuinginkan.
Tuhan abadikan bahagia ini.
Yang kubutuhkan tempat tuk pulang yang kutemukan di pelukanmu.
Rumah terakhir satu hati.
Yang kau bisikkan arah tuk pulang sinar yang terang ke pelukanmu.
Rumah terakhir satu hati.
Kamu penantian awal terbaik.
Yang kubutuhkan tempat tuk pulang yang kutemukan di pelukanmu.
Rumah terakhir satu hati.
Yang kau bisikkan arah tuk pulang sinar yang terang ke pelukanmu.
Rumah terakhir satu hati.
Kau pelabuhan terakhir.
Yang kubutuhkan tempat tuk pulang yang kutemukan di pelukanmu.
Rumah terakhir arah tuk rasa sehinggaku.
Yang kau bisikkan arah tuk pulang sinar yang terang ke pelukanmu.
Rumah terakhir satu hati.
Kamu tempatku pulang.
Kamu penantian awal terbaik.