Lagu lain dari Penitent
Deskripsi
Seolah-olah seseorang menyalakan senter universal di tengah malam – lalu mematikannya. Sesaat cahaya, kilatan makna, lalu kabut lagi, dengungan keheningan dan perasaan yang dibisikkan orang-orang zaman dahulu di suatu tempat yang sangat jauh. Lagu transisi: dari panas ke kehampaan, dari tubuh ke jiwa, dari rasa sakit ke penerimaan. Semuanya seperti dalam hidup – aku hampir tidak punya waktu untuk merasakan denyut nadiku sebelum mereda, meninggalkan kehangatan yang aneh di dadaku. Jenis yang membuat Anda tidak menangis atau bersukacita - Anda hanya berdiri di sana, menghangatkan telapak tangan dan mendengarkan bagaimana keheningan terdengar.
Lirik dan terjemahan
Asli
Heat
up here.
Heat. Heat.
Heat. Heat.
Beneath a veil of moonlight mist,
you slipped away.
A celestial ember
extinguished in the night.
The once vibrant life,
a fleeting spark
now spent
as angelic choirs
echoed a haunting lament.
Lost in the boundless void,
a disorienting expanse
where nothingness reigned.
A desolate expanse.
Then a whisper,
a breath from the elders of old.
As my spirit neared the land,
it was sacred and bold.
Once a witch doctor,
spirits at my call,
wandering paths
are now traversed by all,
guided by wings
and ancestral souls
intertwined.
My journey inward,
the furthest reaches of my mind.
Now in flesh and form,
a new beginning nears.
The whispers of silence
drown out all fears.
No breeze stirs the air.
No word holds sway.
Only the echoes
of a life that slipped away.
Tears of joy,
a bittersweet release
as the song of angels
finds its final peace.
Heat. Heat.
Terjemahan bahasa Indonesia
Panas
Di sini.
Panas. Panas.
Panas. Panas.
Di balik tabir kabut cahaya bulan,
kau menghilang.
Bara langit
padam di malam hari.
Kehidupan yang dulu bersemangat,
percikan sesaat
kini telah usai
saat paduan suara malaikat
menggemakan ratapan yang menghantui.
Hilang dalam kehampaan tak terbatas,
hamparan membingungkan
di mana ketiadaan berkuasa.
Hamparan sunyi.
Lalu sebuah bisikan,
nafas dari tetua purba.
Saat jiwaku mendekati tanah,
ia sakral dan berani.
Dulu seorang dukun,
roh di panggilanku,
jalan yang dilalui
kini dilalui oleh semua,
dipandu oleh sayap
dan jiwa leluhur
yang terjalin.
Perjalananku ke dalam,
jangkauan terjauh pikiranku.
Kini dalam daging dan rupa,
awal baru mendekat.
Bisikan keheningan
menenggelamkan semua ketakutan.
Tak ada angin bertiup.
Tak ada kata yang berkuasa.
Hanya gema
dari kehidupan yang menghilang.
Air mata bahagia,
pelepasan yang pahit manis
saat nyanyian malaikat
menemukan kedamaian terakhirnya.
Panas. Panas.