Lagu lain dari Mahalini
Deskripsi
Terkadang rasanya dunia sengaja menggelar pertunjukan dengan akhir yang buruk. Semuanya dimulai seperti dalam video klip lama - senyuman, janji, musik di latar belakang, bahkan kata-katanya terdengar hampir benar. Dan kemudian - keheningan. Hanya gema dari "mengapa?"-nya sendiri dan monolog batin, di mana tokoh utamanya adalah orang yang hancur yang kemarin masih percaya pada kata-kata indah. Ini adalah lagu tentang saat-saat ketika kebohongan tampak lebih anggun daripada kebenaran, dan kekecewaan adalah satu-satunya hal yang tersisa setelah kembang api perasaan. Ketika cinta berubah menjadi jebakan, dan kamu menjadi figuran dalam drama orang lain. Pahit, tapi jujur: tidak semua ketulusan layak untuk diulang. Dibawakan oleh Mahalini Penulis: Andmesh Kamaleng, Mahalini, Mohammed Kamga Komposer: Andmesh Kamaleng, Mahalini, Mohammed Kamga Piano, synthesizer, bass: Adrian Rahmat Purwanto Produser: Adrian Rahmat Purwanto Vokal: Mohammed Kamga Vokal direkam di studio Backbeat, sound engineer: Aditya Bagus, editing: Rio Nduul Mixing: Heri Alesis Mastering: Dimas Pradipta
Lirik dan terjemahan
Asli
Sampai saat ini tak terpikir olehku.
Aku pernah beri rasa pada orang sepertimu.
Seandainya sejak awal tak kuyakinkan diriku.
Tutur kata yang sempurna tak sebaik yang kukira.
Andai kutahu semua akan sia-sia.
Takkan kuterima cinta sesaatmu.
Bagaimana dengan aku terlanjur mencintaimu.
Yang datang beri harapan lalu pergi dan menghilang.
Tak terpikirkan olehmu, hatiku hancur karenamu.
Tanpa sedikit alasan, pergi tanpa berpamitan.
Takkan kuterima cinta sesaatmu.
Seandainya sejak awal tak kuyakinkan diriku.
Tutur kata yang sempurna tak sebaik yang kukira.
Andai kutahu semua akan sia-sia.
Takkan kuterima cinta sesaatmu.
Bagaimana dengan aku terlanjur mencintaimu.
Yang datang beri harapan lalu pergi dan menghilang.
Tak terpikirkan olehmu, hatiku hancur karenamu.
Tanpa sedikit alasan, pergi tanpa berpamitan.
Takkan kuterima cinta sesaatmu.
Sia-sianya ku bertemu dengan cintamu.
Tertipu tutur dan caramu seolah cintaiku.
Palas kau curangi aku.
Bagaimana dengan aku terlanjur mencintaimu.
Yang datang beri harapan lalu pergi dan menghilang.
Tak terpikirkan olehmu, hatiku hancur karenamu.
Tanpa sedikit alasan, pergi tanpa berpamitan.
Takkan kuterima cinta sesaatmu.