Lagu lain dari Aleyna Kalaycıoğlu
Deskripsi
Mastering Engineer, Recordingarranger, Produser, Mixing Engineer, Programmer: Rapnos
Penulis Lirik Komposer, Produser: Canbay
Vokalis: Aleyna Kalaycıoğlu
Penulis Lirik Komposer: Olcay Testici
Penulis Lirik Komposer: Burak King
Lirik dan terjemahan
Asli
Yoluna baş koydum deli gönül. Beni çok yordun.
Geçip gider ömür. Yoluna baş koydum deli gönül.
Beni çok yordun.
Senin bence gidesin var.
Hani nerede eski hevesim yar. Saçım aksa sensin sebebim yar.
Alacaksan son bir nefesim var.
Ateş olsam senle yanasım var. Küle dönsem de yine kanasım var.
Tuz oldum bak sonunda yarasında.
Bir umut söndü gözünün karasında.
Beni de yaktı o malum yangın.
Sebep sonu bahane sandın.
Çok sevdim ismi bende kalsın.
Sen nasıl bir insansın?
Yoluna baş koydum deli gönül. Beni çok yordun. Geçip gider ömür.
Yoluna baş koydum deli gönül.
Beni çok yordun.
Senin bence gidesin var. Hani nerede eski hevesim yar.
Saçım aksa sensin sebebim yar.
Alacaksan son bir nefesim var. Ateş olsam senle yanasım var.
Küle dönsem de yine kanasım var. Tuz oldum bak sonunda yarasında.
Bir umut söndü gözünün karasında.
Terjemahan bahasa Indonesia
Aku mengikuti jalanmu, hati yang gila. Kamu membuatku sangat lelah.
Hidup berlalu. Aku mengikuti jalanmu, hati yang gila.
Kamu membuatku sangat lelah.
Saya pikir kamu harus pergi.
Dimana semangatku yang lama, kawan? Jika rambutku tipis, kamulah alasannya, kawan.
Aku punya satu nafas terakhir jika kamu mau menerimanya.
Jika aku api, aku akan bersamamu. Bahkan jika aku berubah menjadi abu, aku tetap mengeluarkan darah.
Dengar, aku akhirnya menjadi garam di lukamu.
Sebuah harapan memudar dari matanya.
Api itu juga membakarku.
Anda pikir akhir adalah sebuah alasan.
Saya sangat menyukainya, saya akan menyimpan nama itu.
Orang seperti apa kamu?
Aku mengikuti jalanmu, hati yang gila. Kamu membuatku sangat lelah. Hidup berlalu.
Aku mengikuti jalanmu, hati yang gila.
Kamu membuatku sangat lelah.
Saya pikir kamu harus pergi. Dimana semangatku yang lama, kawan?
Jika rambutku tipis, kamulah alasannya, kawan.
Aku punya satu nafas terakhir jika kamu mau menerimanya. Jika aku api, aku akan bersamamu.
Bahkan jika aku berubah menjadi abu, aku tetap mengeluarkan darah. Dengar, aku akhirnya menjadi garam di lukamu.
Sebuah harapan memudar dari matanya.