Lagu lain dari Hindia
Deskripsi
Produser : Baskara Putra
Produser : Kareem Soenharjo
Komposer : Baskara Putra
Komposer : Kareem Soenharjo
Penulis Lirik: Iyas Lawrence
Penulis Lirik: Kristo Immanuel
Lirik dan terjemahan
Asli
Dulu saat saya pelatihan sempat terjadi perundungan yang luar biasa sehingga berita itu menyebar luas bahkan keluar dari institusi akibat dari satu dua orang sampai masyarakat tidak percaya dengan kami karena satu dua orang ini seluruhnya menjadi rusak.
Namun bagaimana nasib kami yang tidak melakukan apa-apa?
Bukannya karena kami tidak peduli, bukannya karena kami membiarkan ini terjadi, bukan.
Karena saat itu kami takut, Mas.
Tidak ada yang bisa kami lakukan selain diam.
Tapi kami dicap yang sama seperti yang melakukan perundungan tersebut. Apa adil?
Perundungan di pelatihan, di sekolah sama saja dan sama hasilnya semua dicap. Satu merusak, semuanya rusak.
Korupsi itu kewajaran bagi sebuah negara. Gini, saya ralat.
Banyak negara lain merasakan hal yang sama terutama untuk negara berkembang.
Kalau boleh tahu mungkin -gaji sampeyan berapa? -Saya merasa tidak nyaman menyampaikan-
Sembilan, sepuluh juta, sebelas?
Sekitar segitulah saya tebak melihat dari baju, sepatu, dan jam tangan yang Mas pakai.
Gaji teman-teman saya itu enam juta, Mas, sebulan.
Bahkan banyak yang tidak sampai enam juta.
Pangkatnya mungkin lebih tinggi dari dianya, ajudan saya.
Ibaratnya begini, saya ini dikasih sapu tapi yang mereka minta adalah mengubah bantar gebang menjadi sebersih aula masjid.
Punya waktunya aja ndak. Kita tahu apa yang akan datang sebentar lagi, Pak.
Dan lucunya mungkin sebagai masyarakat kami hanya bisa melihat bahwa di bawah payung yang sama ketidaksetujuan antara pemimpin sedang terjadi.
Perlombaan ini seperti lomba tujuh belasan tetapi di skala yang jauh lebih besar. Mengkhawatirkan, menakutkan,
Pak.
Bapak adalah nama yang selalu muncul.
Menurut Bapak apakah ini kewajaran? Umur sampeyan berapa?
Hampir tiga puluh, Pak.
Ingat pemilu beberapa tahun yang lalu, sebelumnya juga.
Saya tidak ingin bilang bahwa ini adalah sebuah kewajaran namun ini yang selalu terjadi.
Orang-orang menggunakan kehancuran, menggunakan apapun untuk jadi tunggangannya.
Saya tidak ingin tapi saya hanya punya satu gagang sapu. Apa yang Mas inginkan dari pemimpin baru?
-Apa? Satu saja. -Transparansi.
Transparansi.
Sekarang saya tanya sama sampeyan.
Tadi saya bercerita soal perundungan di institusi saya.
Apakah sekarang masih terjadi di sekolah-sekolah, Mas?
Mas punya anak atau kalau ndak, punya sepupu mungkin yang bersekolah?
-Ya. -Terjadi ndak di sekolahnya?
-Masih dalam beberapa tempat. -Ya.
Murid-murid yang baik itu suka dijauhi oleh murid-murid yang dalam tanda kutip nakal.
Perbedaannya murid-murid yang baik ini kalau di sekolah punya kemungkinan hidup lebih besar.
Begini, sampeyan mengeluh masalah kondisi negara. Wajar.
Namanya juga rakyat.
Tapi orang suka lupa, saya juga rakyat.
Sama seperti semua orang yang ada di sini.
Kita semua rakyat.
Orang teriak-teriak ke kita yang berkuasa.
Ini bukan krisis kekuasaan, Mas. Ini krisis identitas.